Rabu, 23 September 2015

HB.08-09-2015

Seiring dengan perkembangan waktu, dimana persaingan semakin ketat. Maka sudah sepatutnya kita harus memiliki kemampuan jauh di depan, baik dalam pemikiran maupun tindakan. Lompatan-lompatan pemikirian brilian akan menempatkan kita pada keberhasilan. Sebuah strategi yang sudah seharusnya dikembangkan untuk pendidikan adalah peningkatan mutu disegala bidang, secara konsep memiliki syarat:
a. Murah
b. Berakal pada sumberdaya dan inisiatif lokal
c. Tidak bertumpu pada birokrasi
d. Pihak intervensi (pmrnth) tidak memiliki kualitas yang baik, sudah sepatutnya ditata ulang lagi.
Dalam prosesnya harus adanya saling keterkaitan antara target yang hendak dicapai dengan potensi guru. Sehingga pada pelaksanaannya akan lebih alami, kontekstual, autentik, sesuai minat dan bakat, muah dan aksessibel.

Cerita Dibalik Super Camp 2015

Berlalu sudah acara super camp untuk tahun ini dan selalu memberikan nuansa tersendiri baik bagi siswanya atau guru pembimbingnya.  Program tahun ini mencoba pangalaman baru dengan lokasi perkemahan di daerah Ciputat, tepatnya Perkemahan Tanah Tingal. Sekitar 13 kilometer dari Lazuardi Cinere, ditempuh tidak lebih dari 30 menit dalam keadaan ramai lancar. Keberangkatan sendiri dari sekolah sekitar jam 08.00. Beberapa kendaraan lazuardi mengantarkan acara tersebut dan juga orangtua.

Setibanya di lokasi siswa-siswi disambut dengan berdiri kokoh dan rindangnya pepohonan, serta sudah berjejer tenda untuk peristirahatan nanti malam. Siswa memindahkan barang dari mobil masing-masing dan terlebih dahulu berkumpul di aula untuk pembekalan. Apel sederhana dilanjutkan dengan pembagian tenda, pengenalan toilet dan kamar mandi serta lingkungan sekitar.

Nampak susana siswa yang tidak biasanya (seperti kurang semangat atau lainnya) mungkin dalam pikiran sebagian siswa sudah terbayang untuk sehari dan semalam akan jauh dari orangtua, tidur tidak senyaman di rumah. Di sinilah panitia berusaha menanamkan keyakinan bahwa orangtua mereka sangat akan bangga jika anaknya memiliki kemandirian, tanggung jawab juga sekaligus program sekolah untuk mempersiapkan diri kearah kedewasaan. Di sini siswa mandi, makan, pakai baju, mempersiapkan berbagai kegiatan sendiri. Yang mungkin sebagian siswa masih dilayani oleh orangtua atau asisten rumah tangga.

Kemasan berbagai acara disusun sebaik mungkin supaya anak merasa tidak bosan, walaupun dalam setiap kegiatan berisikan materi namun ketika mampu meramunya dengan santai dan kedekatan antara siswa dengan guru menimbulkan suasana yang fun. Ramuan acara keagamaan seperti shalat, berdoa membaca alquran, dan lainnya menjadi inti dari kegiatan ini. Disela-sela kegiatan di masukkan permainan.

Kegiatan malam yang paling di tunggu-tunggu adalah api ungun, diiringi dengan tausiyah tampak siswa mendengarkan dengan serus sambil makan umbi rebus dan teh manis. Sebelum acara ini mereka mengikuti permainan tebak misteriguest, dimana siswa mencari informasi yang tepat sesuai petunjuk. Games ini cukup menarik perhatian siswa dan juga menuntut kekompakan. Di siang hari pun ada permainan yang menuntut kerjasama, keberanian, dan strategi seperti permainan distribusi tepung, halang rintang, dan perang air.

Ketika hendak menjelang pulang ada beberapa siswa yang melontarkan pertanyaan " kok tr. tidak ada acara jurit malamnya? pasti seru kalau ada acara itu". Acara itu sepertinya asyik buat siswa, namun tidak baik untuk perkembangan selanjutnya. Karena justru yang menarik bagi siswa bukan pada materinya namun lebih kepada acara menakut-nakutinya.

Alhamdulillah kegiatan ini dapat berjalan lancar, ini semua berkat dukungan pimpinan, orangtua, dan semua pihak termasuk bapak ibu guru yang sudah meninggalkan anak dan keluarganya. Bravo lazuardi





Lazuardi Super Camp 2015

Alhamdulillah tanggal 10-11 September 2015, telah dilaksanakan acara tahunan yaitu super camp dengan lancar. Acara keagamaan yang dikemas sedemikian rupa supaya menyenangkan dan menimbulkan kesan yang mendalam dilaksanakan di Tanah Tinggi Ciputat. Siswa-siswi lazuardi mulai dari kelas 4 hingga kelas 6 pada waktu itu menjadi santriwan dan santriwati mencoba belajar menyatu dengan alam dan pepohonan di perkemahan Tanah Tinggal. Semalam jauh dari orangtua menjadi pengalaman baru bagi siswa-siswi kelas 4. Awalnya terlihat sulit namun inilah salah satu pembelajaran kemandirian yang ditanamkan oleh pihak sekolah.



Sehari atau semalam siswa-siswi harus mampu mempersiapkan dirinya, baik terkait hal urusan pribadi seperti: makan, minum, mandi, mempersiapkan keperluan untuk berbagai kegiatan dan lainnya. Bagi siswa-siswi yang di rumahnya sudah mandiri tentunya tidak ada masalah, namun bagi sebagian yang masih disiapkan oleh orang lain tentu ini akan menjadi pembelajaran yang baik.

Kemasan acara dari super camp sendiri meliputi berbagai kegiatan, seperti: diawali dengan pengenalan aturan dan lingkungan, mempersiapkan tenda senyaman mungkin, permainan, shalat dan mengaji, serta madih banyak lagi. Dengan pendampingan dari kakak mentornya (kalau di sekolah guru dan terapis) tim acara berusaha memberikan kemampuan terbaiknya guna menjadikan acara ini berkualitas.

Terima kasih kepada semua guru yang telah terlibat di acara ini, pimpinan dengan segenap supportnya, dan orangtua lazuardi yang telah mengizinkan dan mempercayakan siswa-siswinya. Mudah-mudah acara ini menjadi pembelajaran yang bermakna bagi siswa.(dari www.lazuardi-gis.net)




Jumat, 18 September 2015

LAZUARDI BARU

Yah lama sudah tidak mengisi blog ini, kesibukan sana sini hingga melupakan "Si kecil yang mungkin tidak berarti". Judul lazuardi baru ini entah betul memang makna seperti itu atau hanya sebuah kata sensasi, namun satu yang pasti saya hanya mau mendeskripsikan tentang tahun ajaran baru 2015-2016. Bukan lazuardi kalau tidak berubah, satu contoh yang mudah terlihat adalah tema nama kelas tahun ini adalah inspirasi dari perbintangan, atau mungkin berbau angkasa luar lah.

Tengok saja kelas 1 ada yang namanya Sirius, Vega, Aldebaran. Kelas 2 ada namanya Betelgeuse, Saiph, Meissa, Rigel. Kelas 3 ada namanya Electra, Bellatrix, Canopus dan Arcturus. Kelas empat memiliki nama Antares, Auriga dan Alnair. Kelas lima ada namanya Alphard dan Auva. Sedangkan kelas enam ada namanya Zuben Elakrab, Zubenelgenubi dan Zubeneschamali. Perubahan ini diharapkan dapat menambah wawasan siswa dan juga memberikan stimulus pemikiran tentang hal-hal tersebut. Proses pembelajaran terkadang datang dari hal sepele yang mungkin nantinya akan menjadi pengembangan ketertarikan terhadap bakat dan minat anak.


Tiga kelas baru ini mengadopsi sistem pembelajaran Project Base Learning, proses pembelajaran di hasil akhirnya akan bermuara pada penciptaan berbagai jenis proyek dan juga bentuk-bentuk pelaporan. Dalam pelaksanaannya menuntut berbagai kemampuan secara holistik. Sistem pembelajaran ini digadang-gadang saat ini bakal mampu menjawab tantangan masa yang akan datang, atau dengan kata lain bekal anak didik di suatu saat nanti. Salah satu konsep pemikiran sederhana untuk PBL ini adalah mengacu dunia kerja. Dalam dunia kerja,yang sebenarnya ketika mengerjakan sebuah proyek atau lainnya pastinya akan dikerjakan hingga tuntas, dan setelah tuntas akan menyelesaikan projek atau tantangan yang lainnya. Proses penyelarasan inilah  PBL secara kemungkinan besar dapat mempersiapkan anak belajar secara tuntas.

Gambaran ini tidaklah lengkap mengenai konsep PBL, namun yang pasti ini hanya sebagian kecil dari informasi tentang lazuardi di tahun pelajaran 2015-2016. untuk lengkapnya dapat mengakses webnya Lazuardi-Cinere.

Selasa, 28 Oktober 2014

SUMPAH PEMUDA 2014

Delapan puluh enam tahun silam, telah terjadi satu pertemuan yang saat itu apakah mereka terpikir, akan menjadi tonggak yang besar? Saya yakin tidak, mereka hanya punya  sebuah niatan yang tulus dan kecintaan terhadap nasib bangsa ini yang saat itu dalam kungkungan penindasan. Pemuda dengan semangatnya menyatukan berbagai perbedaan antara lain: perbedaan suku bangsa, perbedaan letak tempat tinggal dan perbedaan bahasa, mereka persatukan dalam" bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia, berbahasa persatuan bahasa Indonesia.

Kini kami sebagai pendidik mengajarkan kepada putra-putri yang orangtua percayakan kepada kami, tentang bagaimana berkehidupan dalam keragaman.

Kini kami sebagai pendidik kami kenalkan rasa masakan atau penganan mereka, sehingga kami tahu betul yang manis itu manis yang pahit itu pahit dan yang asin itu asin, saat ini kami telah mengajarkan rasa kehidupan dalam keragaman.

Kini kami kenakan pakaian mereka, sehingga kami tahu betul bangganya mereka dengan busana kebesarannya.

Pesta budaya kali ini, kami kenalkan saudara kami dari Melayu, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Bukan sebatas pakaian, kami perkenalkan berbagai hasil budaya, yang yang berhubungan dengan seni maupun makanan, begitu pula dengan nyanyian dan tariannya.

Dari kami para guru dan staf, dari siswa-siswi lazuardi, dari orangtua, dan pimpinan lazuardi. Acara kita oleh kita dan untuk kita untuk bersama-sama memberi makna tentang sebuah semangat perjuangan, meneruskan jalinan budaya yang dikemas dalam acara Sumpah Pemuda. Mungkin ini bagi sebagian pemikiran bukan hal yang besar, namun bagi kami ini adalah proses yang dipikirkan dengan segenap kemampuan, dan diaktualisasikan dengan seluruh potensi kami. Kami telah berusaha memberikan yang terbaik.

Terimakasih kepada orangtua yang telah berpartisapasi dalam pentas budaya 2014, tiada penghargaan yang layak, namun mari kita didik anak kita sebaik mungkin. Tiada penyesalan bagi sebuah kerja keras selain kepuasan.


Merapikan kembali



Kamis, 17 April 2014

BELAJAR MENCINTAI BUDAYA



Pesta budaya merupakan satu tema yang di usung oleh kelas 3 SD Islam Lazuardi di semester dua  ini. Siswa dikenalkan dengan beberapa budaya yang ada di Indonesia seperti Papua, Jawa, Sumatera dan lainnya. Tampak foto foto di bawah ini siswa mengenakan kostum daerah tertentu, sementara di meja-meja terpampang makanan khas daerah. Kostum yang dikenakan kemudian diparadekan, foto bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya serta menyanyikan lagu-lagu daerah. 





Guru kelas 3 berhasil menyelenggarakan acaranya ini dengan menggandeng orangtua berperan serta di dalamnya, hal ini mendasari bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua bersama pihak sekolah berhasil membangun konsolidasi yang erat demi tercapainya kualitas pendidikan sebaik-baiknya. Tauladan yang saya kira patut di tiru, baik sebagai motivasi dan inspirasi guru lainnya ataupun kesiapan menjadi orangtua yang berperan aktif untuk mendukung program sekolah.Berikut kutipan dari satu guru kelas tentang pelaksanaan kegiatan Pesta Budaya;


Selamat bagi semua guru kelas tiga yang telah berhasil mepersiapkan, menyelenggarakan Pesta Budaya antara lain :  Tr. Novilia, Tr. Ana, Tr, Choirin, Tr. Nunu, Tr. Heni dan Tr. Helma. Serta kepada seluruh orangtua kelas 3 Marie Curie dan 3 Albert Einstein yang telah meluangkan waktunya, memberikan dukungan demi terlaksanakan acara Pesta Budaya Kamis, 17 April 2014. Kita tunggu gebrakan terbaik dari paralel lainnya,..............

Selasa, 01 April 2014

SMALL HABITS FOR GOOD BEHAVIOR

Small habits, merupakan satu kata atau kalimat  yang sekiranya agak remeh namun punya makna yang bisa jadi sulit dikerjakan atau sulit dilaksankan. Berangkat dari pengalaman saya ketika kuliah dulu, yang bertemu dengan seseorang yang cukup idealis dengan cita-citanya untuk mengubah dunia, orang besar adalah orang yang dikenal atau dikenang belahan dunia manapun. Kata-kata yang sering keluar daru mulutnya adalah: " Apa kata dunia?", "What's wrong man?", setidaknya itulah dua kalimat yang masih teringat hingga saat ini. Dalam sebuah khotbah di depan juniornya ".......Sudah saatnya kita ini berfikir yang luas, memikirkan urusan yang lebih besar, lebih urgent,  bukan hanya dalam lingkup yang sempit, namun berfikir yang mendunia. Cara fikir ini akan mencerminkan siapa kita, cara inilah yang nantinya akan memberikan perubahan........Tidak seperti dosen di sini yang masih mempermasalahkan tulisan, tanda baca dan doyanya mempersulit.............". Dalam hati kecil saya.....Mas sudah berapa lama kuliah?.....sepertinya sudah lebih dari 5 tahun, bagaimana kabar orang tuanya? Sepertinya saya tidak menemukan mas, dimata kuliah apapun. Datang dipagi hari dengan tas besar dengan isi baju ganti, sepatu bola dan lainnya. Ketika siang gabung dengan temannya (yaang mau berteman dengannya) untuk makan siang dai kantin Blok M. Jam 5 atau 6.30 nongkrong pula di halte bis kota untuk pulang, dan itulah yang dilakukannya 5 hari dalam seminggu.
Hingga saat ini coba merenungkan beberapa hal yang telah terlewati, kira-kira apakah si beliau ini telah merubah dunia? Saya merupakan kebanyakan orang yang tak mampu berbuat banyak, kalaupun bertindak tidak menjadi kilauan emas, hanya butiran pasir yang satu biji pasir tersebut sama dengan biji pasir lainnya. Saya berkeyakinan bahwa sesuatu yang besar di mulai dari hal-hal kecil. Membangun kebiasaan yang baik untuk sebuah akhlak yang baik. Satu kebiasaan kecil yang coba tanamkan ke anak didik saya adalah membiasakan menyimpan sepatunya dengan tertata dan rapi.
Adakah manfaatnya? setidaknya saat itu yang terasakan adalah ketika meraka pulang atau kembali dapat dengan mudah mengenali sepatunya, kelihatan bagian kiri dan kanannya, lebih enak dipandang mata. Mari bandingkan keadaan ini!
Lantas apa yang mereka kerjakan di dalam ruangan tersebut? tiada lain adalah membuat sebuah projek dengan kekuatan imajinasinya masing-masing, keterampilan yang dikuasainya, pemahaman material yang tersedia di lingkungannya, unjuk kerja dengan potensi yang di milikinya serta kerjasama atau membantu siswa lain yang mengalami kesulitan. Berapa kualitas sistem pembelajaran ini, dilihat dari psikomotor-kognisi-apektifnya atau knowledge dan akhlaknya?