Rabu, 24 Juni 2020

PEMBELAJARAN KOLASE ONLINE DI TENGAH COVID 19

Pandemi Covid 19, sudah memberangus kehidupan normal bangsa Indonesia dengan tanpa terkecuali di seluruh lapisan masyarakat, miskin-kaya, dari kota hingga pedesaan. Sudah banyak orang terpapar dengan penyakit ini bahkan hingga hari ini sudah menyentuh 2500 orang meninggal dunia.

Banyak sektor menjadi hancur akibat pandemi ini, salah satunya dalam bidang pendidikan. Hal ini memaksa kegiatan pendidikan dihentikan dan memindahkan semua aktivitas menjadi secara virtual. Pembelajaran, pembangian raport, wisuda, dan penerimaan siswa baru pun dilakasanakan secara online.

Kegiatan online ini tentunya banyak hambatan yang dihadapi, sekalipun bagi institusi pendidikan yang sudah siap. Apalagi sekolah yang kemampuan adaptasinya masih memerlukan waktu penyesuaian. Rata-rata masalah yang umum dihadapi adalah kemampuan guru, kemampuan siswa dan orang tua, perangkat online seperti laptop, handphone dan jaringan internet.

Lazuardi merupakan sekolah yang berupaya untuk tetap memberikan pelayanan terbaik, guna berlangsungnya pembelajaran. salah satunya pembelajaran Art. Pembelajaran dengan tema Kolase ini ini disampaikan atau di kelola dengan google classroom, komunikasi virtual Zoom dan GMeet, serta berbagai software lainya baik yang bersifat online maupun offline.

Gambar di atas merupakan penampakan satu materi pembelaran dengan tema kolase menggunakan virtual. Siswa mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan aplikasi zoom. materi pembelajaran selain diberikan di google classroom juga ditampilkan di youtube, sehingga jika siswa  berhalangan hadir masih dapat mengikuti pembelajaran mandiri.


Hasil karya siswa dari pembelajaran ini siswa dapat mengirimnya ke google classroom, namun jika terkendala kita masih mempermudahnya dengan melalui pesan whatsapp. Karya siswa kemudian di pajang atau dipamerkan di www.artstep.com, dimana web ini merupakan wadah virtual untuk karya. Nantinya siswa dapat melihat karya sendiri atau siswa lainnya, dan ini merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap karya mereka.

Ini adalah tampilan karya siswa kelas 5 SD Lazuardi GCS dengan materi Kolase. Pameran ini jua dikemas dalam bentuk permainan. Dimana ruang pameran ini ditata/dibuat dengan mode maze (apa itu maze, silahkan bisa googling saja). Namun jika mau mencoba dapat mengunjungi link ini: https://www.artsteps.com/view/5e9d0155adf16255b9c74fc3

Nampak kita dapat melihat beberapa siswa dalam waktu bersamaan secara virtual menghadiri pameran karya siswa lainnya. Sebagai bahan pembelajaran apresiasi seni, siswa yang sudah mengunjungi pameran ini dapat menjawab beberapa pertanyaan yang sudah dipersiapkan di assignment google classroom.

Rabu, 25 September 2019

SIMULASI GEMPA LAZUARDI SEPTEMBER 2019





Gempa bumi adalah kejadian bergetarnya bumi yang diakibatkan oleh pergeseran lempeng bumi, pergerankan lempeng tektonik ini hingga dirasakan kepermukaan bumi. Guncanngannya mulai dari skala kecil hingga besar. Kejadiannya tidak pernah bisa diprediksi.  Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.  Maka keadaan ini kemungkinan gempa sudah pasti sangat besar. Untuk mengurangi kerugian yang lebih besar baik dari sisi saranaa dan prasarana, pelatihan penanganan dan keselamatan gempa menjadi penting. 


Tengok negara Jepang, kita sama-sama tahu bahwa negara tersebut sering dilanda gempa. Namun pemerintah dan warganya sadar betul bagaimana mereka perlunya persiapan dan penanganan akan gempa. Struktur bangunan mereka dipersiapkan dengan baik, begitu pula dengan cara menyelamatkan diri mereka ajarkan kepada siswanya mulai dari kanak-kanak. Sehingga jatuhnya korban dapat diminimalisir.



Lazuardi memandang sangat penting untuk mempersiapkan anak didiknya memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang penyelematan akan gempa. Hari ini tepatnya Rabu 25 September 2019 melaksanakan simulasi gempa, secara menyeluruh. Nampak suasana riuhnya ketika sirine pertama, untuk menyelamatkan diri di dalam kelas. Kemudian evakuasi ke lapangan terbuka. Mudah-mudahan pelatihan ini membawa dampak yang baik bagi pembelajaran siswa.


Senin, 26 Agustus 2019

SHALAT ISTISQA DI LAZUARDI


Manusia adalah makhluk lemah, maka tidak ada sesuatu pun yang perlu disombongkan. Ketika baru dilahirkan tidak ada sedikitpun daya yang dimiliki selain hanya menangis. Ketika dewasa tak jarang pula ketika tak mampu menghadapinya putus asa, namun dengan pengetahuan dan kesadaran dapat menjadikan tabah. Ketika tua kita akan kembali seperti bayi dengan wujud yang berbeda.
Saat ini MBKG mengisyaratkan kemarau yang panjang, sehingga imbasnya yang langsung terasa adalah susahnya mendapatkan air terutama air bersih. Tengok dibeberap daerah, lahan pertanian gagal panel Karena ketiadaan air. Kebakaran dimana-mana karena hutan atau lahan gambut yang kering, mudah memicu kebakaran.

Umat Islam sudah seyogyanya mengembalikan  kesadaran akan fungsinya sebagai manusia, yaitu sebagai mahkluk untuk menyadari eksistensinya sebagai manusia sendiri. Renungi apa yang telah dilakukan, lebih mawas diri, dan berbuat untuk lebih baik, bisa terhadap semasa manusia, lingkungan dan juga Tuhannya. Mungkin saat ini kita terlalu banyak mengejar dunia, sehingga melupakan fungsi kita sebagaimana di atas.




Pada kesempatan ini bulan Agustus akhir 2019 Lazuardi GCS mengadakan shalat Istisqa, ini adalah bentuk pengajaran dimana ketika sedang dilanda dengan musibah kekeringan. Shalat istisqa adalah shalat Sunah yang dilakukan untuk meminta diturunkannya hujan. Salat ini dilakukan bila terjadi kemarau yang panjang atau karena dibutuhkannya hujan untuk keperluan/hajat tertentu

Sebagaimana diriwayatkan
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ke luar dengan berpakaian sederhana, penuh tawaduk dan kerendahan. Sehingga tatkala sampai di musala, dia naik ke atas mimbar, tetapi tidak berkhutbah sebagaimana khutbah kalian ini. Ia terus menerus berdoa, merendah kepada Allah, bertakbir kemudian salat dua rakaat seperti salat ketika Ied". (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan di hasankan oleh al-Albani).
Mudah-mudahan pembelajaran ini kelaknya membawa manfaat untuk anak didik kita, dan lebih berserah diri kepada Tuhan sebagai pencipta mahluk itu sendiri. Lebih mampu berbuat kebajikan baik terhadap sesame maupun terhadap alam ini.

Selasa, 26 Desember 2017

Pembagian Rapor SMP Lazuardi Cinere

Pembagian rapor adalah hal yang lumrah di setiap sekolah, begitu juga dengan di SMP Lazuardi Cinere. namun ada sesuatu yang berbeda di pembagian rapor semester 1 tahun pelajaran 2017-2018 kali ini. Pembagian Rapor kali ini mengusung tema budaya budaya betawi. Semua guru mengenakan pakaian bernuansa betawi. Kegiatan awal dimulai dengan penyambutan orang tua di depan gedung, dan selanjutnya diarahkan keruangan sesuai dengan kelasnya dimana siswa belajar.

Selama kegiatan berlangsung kami dokumentasikan untuk menjadi portofolio kegiatan tersebut. mulai dari persiapan, kedatangan orang tua, diskusi membahas perkembangan siswa dan lainnya. Yang unik dari pembagian rapor semester satu ini dengan adanya penyajian karya siswa terkait dengan UA Seni Rupa, antara lain: UA Melukis, UA Kaligrafi, UA Membatik, UA Papercraft, dan UA Seni Kriya.

Berikut ini dokumentasinya.



Mothers Day Lazuardi 2017

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 22 Desember 2017 lazuardi GIS Cinere, menggelar kegiatan akhir semester tepatnya pembagian rapor. Pembagian rapor semester 1 ini merupakan bentuk laporan perkembangan selama 6 bulan, yang terkait dengan apa saja yang sudah diraih oleh siswa.

Selain pembagian rapor ternyata bertepatan dengan hari ibu. Kreativitas guru SD ditantang untuk membuat dokumentasi video terkait dengan perayaan hari ibu tersebut. Sangat terharu dengan hasilnya, karena tanpa persiapan persiapan dan pelatihan yang matang ternyata guru SD Lazuardi GIS Cinere mampu menampilkan video yang menyentuh. Kira-kira itulah ungkapan kepala sekolahnya dimedia whatsapp.

Minggu, 17 Desember 2017

TEMAN-TEMAN HEBAT

Seiring dengan perkembangan zaman, dan bahwasannya ilmu selalu berkembang begitu pula dengan persaingan di dalam dunia Pendidikan. Tepatnya lazuardi GIS Cinere (pusat) hari Jumat dan Sabtu tanggal 15-16 Desember 2017 mengadakan bentuk pertemuan entah musyawarah/diskusi/dsb. Bentuk seperti ini baru pertama kali diadakan menurut sepengetahuan saya karena disana kita duduk bersama semua unsur/lapisan lazuardi seperti pihak yayasan, kepala unit, guru, tenaga kebersihan, lingkungan/taman, satpam, sopir dan lainnya untuk membahas dan merumuskan kembali Visi dan Misi lazuardi. Hal ini tidak terlepas dari kegelisahan bapak Haidar Bagir selaku pemilik yayasan terkait dengan lulusan anak didik dari Lazuardi. Sudahkah lazuardi menghasilkan anak didik yang mampu membahagiakan dirinya dan orang lain?. Pertanyaan ini selalu menghantui beliau, diakhir semester satu ini tentunya beliau sudah banyak menerima masukkan yang berhubungan dengan progres perkembangan lazuardi melalui laporan pertanggungjawaban kepala sekolah atau pimpinan lainnya. Saya kira sesuatu yang layak untuk dievaluasi secara menyeluruh, karena lazuardi sejak awal berdirinya tahun 1994 hingga sekarang, artinya sudah 23 tahun belum ada evaluasi secara menyeluruh.
Kehebatan dari teman-teman adalah semangat dan kemauan yang kuat menambah serta mengembangkan ilmu pengetahuan. Dokumentasi ini memperlihatkan kebahagiaan diakhir sesi hari pertama. Padahal kalau mau melihat kepadatan tugas teman-teman sungguh luar biasa. Kegiatan pagi hingga siang penilaian akhir semester dan juga pembuatan rapor. Sedangkan siang hingga menjelang malam harus mengikuti kegiatan diskusi.

Senin, 16 Oktober 2017

True Colors Project



(visiting the cultural center and embassy)
True colors are students project about cultural diversity in Indonesia. It means that everyone is unique with their own characteristic and differences. After students explore their family history and backgrounds they came out with the fact that the differences are not always become somethings bad but also have their own beautiful just like a rainbow.

As there continues the project, they decide to present a little bit about Indonesian traditional culture in front of real world audience. Not just only have an exhibition, the students also have a broad and deep understanding about other countries culture which help them to enhance a better understanding about the differences.

The students have preparation and a lot of hard work to practices. They choose Gamelan as one of Indonesian traditional music instruments to play it. Is not easy as the look because beside their still in grade 4, they never played the gamelan before.