Jumat, 03 September 2010

KETIKA GARIS JADI INSPIRASI

Garis adalah unsur paling dasar dalam menggambar atau melukis. Garis terbentuk dari hubungan dua titik ataupun persinggungan dua warna. Garis merupakan kemampuan awal atau yang paling pertama di kuasai oleh seseorang. Mungkin kita masih ingat ketika masih kecil atau barangkali amati anak kecil ketika menggoreskan sesuatu baik pensil, krayon ataun lainnya. Benda dipegang dengan cara digenggam tidak seperti layaknya kita memenggang pensil sekarang, tapi tentunya kita pun sama melakukan hal itu karena keterbatasan motorik pada saat itu. Namun bagaimanapun teknik memengangnya hasilnya adalah berupa garis, terlepas kualitas garisnya belum memiliki control yang baik.
Garis adalah ungkapan perasaan dan cerminan emosional pada suatu waktu tertentu. Sesorang dengan pengetahuan tertentu mungkin dapat mememahai karakter anak dari kualitas garis yang dibuatnya. Garis dapat memperlihatkan suasana atau keadaan hati tenang, riang, gembira, sedih marah dan sebagainya. Hal ini terlihat dari kualitas garis itu apakah yang tegas kuat dan dalam, ringan, putus-putus dan terkadang sebagian tidak terlihat dengan jelas itu semua memperlihatkan emosional seseorang.
Belajar menggambar bagi usia tertentu, agak lah sulit untuk menjarakan sebagian-sebagian karena biasanya akan menimbulkan kejenuhan bagi anak. Padahal hasilnya mungkin jauh lebih baik. Kebanyakan menggambar adalah mengolah kemampuan secara bersamaan antara kemampuan menata ruang atau bidang gambar, pengolahan kualitas bentuk, teknik mewarnai dan penyelesaian. Hasil akhir dari karya tersebut biasanya sama antara siswa dengan gurunya. Tata letak objek suatu tema akan diikuti oleh siswanya begitu pula dengan area-area mewarnai beserta tekniknya sehingga eksplorasi anak kurang begitu teraktualisasikan.
Namun bagaiman dengan teknik ini?
Siswa berdiskusi atau tanya jawab tentang berbagai macam garis yang dipahaminya. Kita tahu bahwa garis beraneka ragam baik dari tampilannya, arah ataupun karakternya seperti ada garis: Garis putus-putus, zig-zag, horizontal, vertical, lengkung, gelombang, pilin, spiral dan sebagainya. Ketika semua siswa sudah paham dengan berbagai macam garis kita dapat memberikan penugasan untuk membuat karya tadi dengan berbagai kualitas garis. Di sini siswa perlu ditegaskan untuk tidak selalu membuat karya dengan orientasi objek nyata (Formalis) Siswa membuat suatu karya dengan tenpa beban pemikiran jadinya nanti seperti apa, hal ini singkirkan jauh. Hasilnya tentu kita sudah bisa menebak karya yang tercipta adalah kumpulan bidang yang beraturan ataupun tidak dengan berbagai ukuran. Lantas apa selanjutnya yang harus dilakukan? Tentunya siswa dapat diajarkan dengan berbagai teknik mewarnai. Kita tahu teknik pewarnaan gambar banyak sekali macamnya. Ada teknik blok, gradasi, transfaran, bintik, tursir dan sebaginya. Apa jadinya jika kesemua teknik ini jika dimasukan atau diterapkan terhadap karya tadi?