Kamis, 17 April 2014

BELAJAR MENCINTAI BUDAYA



Pesta budaya merupakan satu tema yang di usung oleh kelas 3 SD Islam Lazuardi di semester dua  ini. Siswa dikenalkan dengan beberapa budaya yang ada di Indonesia seperti Papua, Jawa, Sumatera dan lainnya. Tampak foto foto di bawah ini siswa mengenakan kostum daerah tertentu, sementara di meja-meja terpampang makanan khas daerah. Kostum yang dikenakan kemudian diparadekan, foto bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya serta menyanyikan lagu-lagu daerah. 





Guru kelas 3 berhasil menyelenggarakan acaranya ini dengan menggandeng orangtua berperan serta di dalamnya, hal ini mendasari bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua bersama pihak sekolah berhasil membangun konsolidasi yang erat demi tercapainya kualitas pendidikan sebaik-baiknya. Tauladan yang saya kira patut di tiru, baik sebagai motivasi dan inspirasi guru lainnya ataupun kesiapan menjadi orangtua yang berperan aktif untuk mendukung program sekolah.Berikut kutipan dari satu guru kelas tentang pelaksanaan kegiatan Pesta Budaya;


Selamat bagi semua guru kelas tiga yang telah berhasil mepersiapkan, menyelenggarakan Pesta Budaya antara lain :  Tr. Novilia, Tr. Ana, Tr, Choirin, Tr. Nunu, Tr. Heni dan Tr. Helma. Serta kepada seluruh orangtua kelas 3 Marie Curie dan 3 Albert Einstein yang telah meluangkan waktunya, memberikan dukungan demi terlaksanakan acara Pesta Budaya Kamis, 17 April 2014. Kita tunggu gebrakan terbaik dari paralel lainnya,..............

Selasa, 01 April 2014

SMALL HABITS FOR GOOD BEHAVIOR

Small habits, merupakan satu kata atau kalimat  yang sekiranya agak remeh namun punya makna yang bisa jadi sulit dikerjakan atau sulit dilaksankan. Berangkat dari pengalaman saya ketika kuliah dulu, yang bertemu dengan seseorang yang cukup idealis dengan cita-citanya untuk mengubah dunia, orang besar adalah orang yang dikenal atau dikenang belahan dunia manapun. Kata-kata yang sering keluar daru mulutnya adalah: " Apa kata dunia?", "What's wrong man?", setidaknya itulah dua kalimat yang masih teringat hingga saat ini. Dalam sebuah khotbah di depan juniornya ".......Sudah saatnya kita ini berfikir yang luas, memikirkan urusan yang lebih besar, lebih urgent,  bukan hanya dalam lingkup yang sempit, namun berfikir yang mendunia. Cara fikir ini akan mencerminkan siapa kita, cara inilah yang nantinya akan memberikan perubahan........Tidak seperti dosen di sini yang masih mempermasalahkan tulisan, tanda baca dan doyanya mempersulit.............". Dalam hati kecil saya.....Mas sudah berapa lama kuliah?.....sepertinya sudah lebih dari 5 tahun, bagaimana kabar orang tuanya? Sepertinya saya tidak menemukan mas, dimata kuliah apapun. Datang dipagi hari dengan tas besar dengan isi baju ganti, sepatu bola dan lainnya. Ketika siang gabung dengan temannya (yaang mau berteman dengannya) untuk makan siang dai kantin Blok M. Jam 5 atau 6.30 nongkrong pula di halte bis kota untuk pulang, dan itulah yang dilakukannya 5 hari dalam seminggu.
Hingga saat ini coba merenungkan beberapa hal yang telah terlewati, kira-kira apakah si beliau ini telah merubah dunia? Saya merupakan kebanyakan orang yang tak mampu berbuat banyak, kalaupun bertindak tidak menjadi kilauan emas, hanya butiran pasir yang satu biji pasir tersebut sama dengan biji pasir lainnya. Saya berkeyakinan bahwa sesuatu yang besar di mulai dari hal-hal kecil. Membangun kebiasaan yang baik untuk sebuah akhlak yang baik. Satu kebiasaan kecil yang coba tanamkan ke anak didik saya adalah membiasakan menyimpan sepatunya dengan tertata dan rapi.
Adakah manfaatnya? setidaknya saat itu yang terasakan adalah ketika meraka pulang atau kembali dapat dengan mudah mengenali sepatunya, kelihatan bagian kiri dan kanannya, lebih enak dipandang mata. Mari bandingkan keadaan ini!
Lantas apa yang mereka kerjakan di dalam ruangan tersebut? tiada lain adalah membuat sebuah projek dengan kekuatan imajinasinya masing-masing, keterampilan yang dikuasainya, pemahaman material yang tersedia di lingkungannya, unjuk kerja dengan potensi yang di milikinya serta kerjasama atau membantu siswa lain yang mengalami kesulitan. Berapa kualitas sistem pembelajaran ini, dilihat dari psikomotor-kognisi-apektifnya atau knowledge dan akhlaknya?