Kamis, 13 Februari 2014

Art Differentiated Learning



Selama ini pembelajaran cenderung bersifat konvensional dan diajarkan secara general, artinya mau kondisi anaknya seperti apa diberikan materi dan teknik ajar yang sama. Pada saat itu mungkin kita merasa bahwa sudah tepat  dalam cara mengajar dengan alasan bahwa kita telah adil dalam mengajar . Siswa diberikan kesempatan yang setara antara satu siswa dengan siswa lainnya. Konsep keadilan sama rata dan sama rasa ini lah yang selama ini mungkin telah mengekang kita semua sebagai guru, sehingga kita sulit mengenal karakter secara personal dari setiap siswa. Kesamaan perlakuan memungkinkan siswa berkompetisi dengan siswa lainnya dimana jiwa dan mental yang unggul akan dianggap sebagai orang pintar.
Kita telah lupa bahwa sekolah bukanlah pabrik yang mengasilkan manusia dengan pengetahuan yang sama, sifat dan karakter yang serupa, warna dan rasa sejenis seperti robot atau kendaraan. Manusia dengan warna kulit yang beragam, minat dan keinginan yang macam-macam namun yang dihasilkan cenderung produk yang sejenis. Maka dari itu atas dasar kesadaran akan fitrah manusia dan didukung perkembangan ilmu pengetahuan menyadari bahwa manusia mempunyai kecerdasan yang beragam, biarkan input yang heterogen ini berkembang kuat, dalam menemukan pribadi asli atau bawaan dengan sentuhan perbaikan ahlak dan penyadaran akan pentingnya pengetahuan.

Differentiated learning atau lebih tepatnya  differentiated instruction proses penyampaian ilmu pengetahuan lebih fleksible lebih humanis dan memiliki kedekatan dengan pribadi siswa, lebih menghargai manusia sebagai subject bukannya object. Siswa akan lebih respek terhadap guru, teman atau lingkungan akan penghargaan yang di dapat lebih memiliki kesesuaian. DI (Differentiated Instruction) dalam pelaksanaanya akan terjadi dalam terjadi atau akan terlihat di materi ajar, proses kegiatan belajar atau dalam penilaian. Siswa yang dianggap pintar akan diperlakukan sesuai dengan kebutuhannya, siswa yang kesulitan akan di bantu atau dibimbing sesuai dengan kesulitannya, sehingga secara konseptual harusnya ini akan meringankan tugas guru dalam mengajar, membantu siswa tepat saran, menimbulkan kemandirian bagi siswa yang dianggap mampu. 

Satu materi yang di ajarkan di kelas 6 yaitu project gantungan tas yang berbentuk boneka, terbuat dari kain flannel, dengan berbagai tema, teknik pembuatan dan cara penilaian. Semua siswa melakukan pembuatan boneka dengan teknik jahit baik laki-laki maupun perempuan, tidak mempedulian gengsi bahwasannya menjahit adalah pekerjaan perempuan. Namun satu yang pasti adalah semua anthusias dalam memasukan benang ke jarum, mengikat benang dengan berbagai cara, teknik jahit yang variatif antara lain: Jelujur, Tusuk Rantai, Tusuk Tikan Jejak, Tusuk Feston, Tusuk Pipih,  Tusuk Melingar, dsb. Kemampuan tersebut  nantinya menjadi bekal bagi siswa itu sendiri bukan hanya sekedar kemampuan membuat boneka namun satu pekerjaan akan dikerjakan dengan serius tanpa memperhatikan bentuknya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar