Selama ini pembelajaran cenderung bersifat konvensional dan
diajarkan secara general, artinya mau kondisi anaknya seperti apa diberikan
materi dan teknik ajar yang sama. Pada saat itu mungkin kita merasa bahwa sudah
tepat dalam cara mengajar dengan alasan bahwa
kita telah adil dalam mengajar . Siswa diberikan kesempatan yang setara antara
satu siswa dengan siswa lainnya. Konsep keadilan sama rata dan sama rasa ini
lah yang selama ini mungkin telah mengekang kita semua sebagai guru, sehingga
kita sulit mengenal karakter secara personal dari setiap siswa. Kesamaan
perlakuan memungkinkan siswa berkompetisi dengan siswa lainnya dimana jiwa dan
mental yang unggul akan dianggap sebagai orang pintar.
Kita telah lupa bahwa sekolah bukanlah pabrik yang
mengasilkan manusia dengan pengetahuan yang sama, sifat dan karakter yang
serupa, warna dan rasa sejenis seperti robot atau kendaraan. Manusia dengan warna
kulit yang beragam, minat dan keinginan yang macam-macam namun yang dihasilkan
cenderung produk yang sejenis. Maka dari itu atas dasar kesadaran akan fitrah
manusia dan didukung perkembangan ilmu pengetahuan menyadari bahwa manusia
mempunyai kecerdasan yang beragam, biarkan input yang heterogen ini berkembang
kuat, dalam menemukan pribadi asli atau bawaan dengan sentuhan perbaikan ahlak
dan penyadaran akan pentingnya pengetahuan.
Differentiated learning atau lebih tepatnya differentiated instruction proses penyampaian
ilmu pengetahuan lebih fleksible lebih humanis dan memiliki kedekatan dengan
pribadi siswa, lebih menghargai manusia sebagai subject bukannya object.
Siswa akan lebih respek terhadap guru, teman atau lingkungan akan penghargaan
yang di dapat lebih memiliki kesesuaian. DI (Differentiated Instruction) dalam pelaksanaanya akan terjadi
dalam terjadi atau akan terlihat di materi ajar, proses kegiatan belajar atau
dalam penilaian. Siswa yang dianggap pintar akan diperlakukan sesuai dengan
kebutuhannya, siswa yang kesulitan akan di bantu atau dibimbing sesuai dengan
kesulitannya, sehingga secara konseptual harusnya ini akan meringankan tugas
guru dalam mengajar, membantu siswa tepat saran, menimbulkan kemandirian bagi
siswa yang dianggap mampu.
Satu materi yang di ajarkan di kelas 6 yaitu project gantungan
tas yang berbentuk boneka, terbuat dari kain flannel, dengan berbagai tema,
teknik pembuatan dan cara penilaian. Semua siswa melakukan pembuatan boneka
dengan teknik jahit baik laki-laki maupun perempuan, tidak mempedulian gengsi
bahwasannya menjahit adalah pekerjaan perempuan. Namun satu yang pasti adalah semua
anthusias dalam memasukan benang ke jarum, mengikat benang dengan berbagai
cara, teknik jahit yang variatif antara lain: Jelujur, Tusuk Rantai, Tusuk
Tikan Jejak, Tusuk Feston, Tusuk Pipih, Tusuk Melingar, dsb. Kemampuan tersebut nantinya menjadi bekal bagi siswa itu sendiri
bukan hanya sekedar kemampuan membuat boneka namun satu pekerjaan akan
dikerjakan dengan serius tanpa memperhatikan bentuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar