Pembagian rapor adalah hal yang lumrah di setiap sekolah, begitu juga dengan di SMP Lazuardi Cinere. namun ada sesuatu yang berbeda di pembagian rapor semester 1 tahun pelajaran 2017-2018 kali ini. Pembagian Rapor kali ini mengusung tema budaya budaya betawi. Semua guru mengenakan pakaian bernuansa betawi. Kegiatan awal dimulai dengan penyambutan orang tua di depan gedung, dan selanjutnya diarahkan keruangan sesuai dengan kelasnya dimana siswa belajar.
Selama kegiatan berlangsung kami dokumentasikan untuk menjadi portofolio kegiatan tersebut. mulai dari persiapan, kedatangan orang tua, diskusi membahas perkembangan siswa dan lainnya. Yang unik dari pembagian rapor semester satu ini dengan adanya penyajian karya siswa terkait dengan UA Seni Rupa, antara lain: UA Melukis, UA Kaligrafi, UA Membatik, UA Papercraft, dan UA Seni Kriya.
Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 22 Desember 2017 lazuardi GIS Cinere, menggelar kegiatan akhir semester tepatnya pembagian rapor. Pembagian rapor semester 1 ini merupakan bentuk laporan perkembangan selama 6 bulan, yang terkait dengan apa saja yang sudah diraih oleh siswa.
Selain pembagian rapor ternyata bertepatan dengan hari ibu. Kreativitas guru SD ditantang untuk membuat dokumentasi video terkait dengan perayaan hari ibu tersebut. Sangat terharu dengan hasilnya, karena tanpa persiapan persiapan dan pelatihan yang matang ternyata guru SD Lazuardi GIS Cinere mampu menampilkan video yang menyentuh. Kira-kira itulah ungkapan kepala sekolahnya dimedia whatsapp.
Seiring dengan perkembangan zaman, dan bahwasannya ilmu selalu berkembang begitu pula dengan persaingan di dalam dunia Pendidikan. Tepatnya lazuardi GIS Cinere (pusat) hari Jumat dan Sabtu tanggal 15-16 Desember 2017 mengadakan bentuk pertemuan entah musyawarah/diskusi/dsb. Bentuk seperti ini baru pertama kali diadakan menurut sepengetahuan saya karena disana kita duduk bersama semua unsur/lapisan lazuardi seperti pihak yayasan, kepala unit, guru, tenaga kebersihan, lingkungan/taman, satpam, sopir dan lainnya untuk membahas dan merumuskan kembali Visi dan Misi lazuardi.
Hal ini tidak terlepas dari kegelisahan bapak Haidar Bagir selaku pemilik yayasan terkait dengan lulusan anak didik dari Lazuardi. Sudahkah lazuardi menghasilkan anak didik yang mampu membahagiakan dirinya dan orang lain?. Pertanyaan ini selalu menghantui beliau, diakhir semester satu ini tentunya beliau sudah banyak menerima masukkan yang berhubungan dengan progres perkembangan lazuardi melalui laporan pertanggungjawaban kepala sekolah atau pimpinan lainnya.
Saya kira sesuatu yang layak untuk dievaluasi secara menyeluruh, karena lazuardi sejak awal berdirinya tahun 1994 hingga sekarang, artinya sudah 23 tahun belum ada evaluasi secara menyeluruh.
Kehebatan dari teman-teman adalah semangat dan kemauan yang kuat menambah serta mengembangkan ilmu pengetahuan. Dokumentasi ini memperlihatkan kebahagiaan diakhir sesi hari pertama. Padahal kalau mau melihat kepadatan tugas teman-teman sungguh luar biasa. Kegiatan pagi hingga siang penilaian akhir semester dan juga pembuatan rapor. Sedangkan siang hingga menjelang malam harus mengikuti kegiatan diskusi.
True colors are students project about cultural diversity in
Indonesia. It means that everyone is unique with their own characteristic and
differences. After students explore their family history and backgrounds they
came out with the fact that the differences are not always become somethings
bad but also have their own beautiful just like a rainbow.
As there continues the project, they decide to present a
little bit about Indonesian traditional culture in front of real world
audience. Not just only have an exhibition, the students also have a broad and
deep understanding about other countries culture which help them to enhance a
better understanding about the differences.
The students have preparation and a lot of hard work to practices.
They choose Gamelan as one of Indonesian traditional music instruments to play
it. Is not easy as the look because beside their still in grade 4, they never
played the gamelan before.
Bersamaan dengan Quality Time for Parents, Mini Orkestra atau Minor di launching untuk tahun ajaran 2017-2018. Kegiatan ini merupakan sarana untuk memupuk dan mengembangkan bakat serta minat anak didik lazuardi dari tingkat TK sampai SMP atau juga alumni Lazuardi. Ekstrakurikuler ini bersifat free dan dilaksanakan setiap hari Sabtu selama dua jam.
Pada tanggal 14 oktober 2017 telah dilaksanakan Quality Time for Parents.Seminar kali ini di isi oleh Bu Viera Adella dengan moderator Bu Sari Kusuma Dewi. Di awali dengan prolog mengenai pembicaraan menarik dengan salah seorang orang tua yang merupakan
seorang gadget reviewer.
Zaman sekarang jumlah pekerjaan semakin banyak dan variatif, salah satu yg baru
dan unik adalah pekerjaan yang khusus untuk mencoba games-games terbaru untuk
dirilis.Bahkan menurut beliau lagi, games
nantinya akan dimasukkan ke dalam salah satu cabang Olimpiade dunia. Lalu, di
tengah kekhawatiran kita terhadap kemasifan pengaruh gadget muncul kekhawatiran
yang lain, yakni, apakah hal tersebut benar benar berpengaruh burukmenurut kita, namun bisa jadi belum tentu
buat anak-anak millennial ini.
Saya rangkum seminar keren ini dalam bentuk bullets numbering agar lebih
memahami runtutan materi yang sangat padat, cepat tapi bermakna dan bermanfaat.
Bu Della mengawali diskusinya dengan bicara mengenali manusia dalam hal ini
anak, dengan metode paling umum yakni metode milestone, yaitu patokan
pertumbuhan berdasarkan usia, dimana pada rentang usia berbeda, anak juga
memiliki kemampuan yang berbeda pula.
Ternyata, bagi
seorang anak kondisi mental paling nyaman adalah ketika beradadi dalam rahim, karena kondisi
di dalam rahim hampir tidak ada turbulensi.
Kondisi ini bisa disebut juga kondisi autism,
alias no contact with outside world.
Anak menangis ketika lahir
karena ada turbulensi ketika datang pertama kali ke dunia. Hal ini menunjukam
bahwa turbulensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi si anak.
Itulah mengapa penting sekali mempersiapkan
anak untuk siap menghadapi dunia barunya.
Anak masa kini kebanyakan
adalah anak yg unik dan inklusif
Sehingga kita harus berikan stimulasi
sensori yg 'luas' bukan yang 'dalam'
'Dalam', maknanya
di sini ketika si anak memiliki kelekatan dalam kepada sang ibu, yang
lalu membuat mereka dalam fase "PW" atau
merasa aman dengan kondisi ternyamannya.
Yang baik adalah biasakan anak
pada hal-hal yang baru dan luas, sehingga sensornya menjadi terbiasa dengan
turbulensi dan tidak terkejut dengan adanya gejolak gejolak yang lumrah terjadi
dalam hidup.
Usia pra sekolah kemudian menjadi salah
satu stagepenting untuk melatih sensory pada
anak.
Pada stageini,
ketika orang tua lengah maka pembiasaan sensorytadi yang kemudian direbut oleh kehadiran gadgetyang
sangat memanjakan sensoryvisual mereka.
Pada masa awal pra sekolah
menjadi penting untuk memberikan perintah secara jelas dan melibatkan semua
sensori sehingga anak dapat memahami dengan baik.
Ketika bicara sesuatu, akan
sangat baik jika orgtua juga menunjukan caranya kemudian ikut mempraktekkannya
bersama anak, daripada sekitar perintah lisan dengan
ceracau yang panjang namun tidak jelas.
Regulasi bagi anak juga sangat penting.
Orangtua harus bisa mengendalikan/mengerem
perilaku anak. Kita harus tahu kapan menyetop adiksi anak
terhadap sesuatu yg membuat mereka terobsesi.
Kita adalah komisioner
dalam organisasi parenting di rumah, kitalah yg mengapproval apa yg d lakukan
anak.
Hati-hati
dengan istilah anak kreatif dan imajinatif. Kreatif
adalah tentang make it happensedangkan imajinatif baru
sampai tahap membayangkan saja belum dengan action. Anak harus
kita siapkan tidak berhenti pada level imajinatif, tapi juga kreatif. Yaitu
mewujudkan keinginannya dg kerja keras dan konsistensi.
Menghadapi anak millenial kita hrs tau buttonnya.
Mereka amat kritis, sehingga jika kita
sebagai orangtua kurang informasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hidup
mereka, maka sulit bagi kita untuk terlibat dan memiliki pengaruh dalam hidup
mereka. Pelajari dunianya, agar kita bs tau button mana yang kita tekan ketika
mereka melakukan bargaining dengan kita sebagai komisioner.
poin di atas itu baru openingnya 😀
Berikut sudah mulai masuk ke slide materi.
1 : Siapa mereka
The me me generation, millennial, narcistic (research of UN National Institutes
of health), lazy, fame oriented, spend more time tweeting about latests
entertainment than political issues
Me me generation -> Anak selalu merasa hidup ini ya tentang dia dan dirinya.
Namun anak sebenarnya seperti celengan, apa yg diisi itu yg dikeluarkan. Output
sesuai input.
Kaitannya dengan fame, kadang-kadang orangtua yg mengafirmasi hal itu dengan
mempromote narsistik melalui share foto-foto anak.
Laziness -> kegiatan fisik sebenarnya bisa distimulasi melalui kegiatan
sederhana misalnya bantu membawa belanjaan atau household chores
Fokus poinnya bukan pada gadgetnya, tapi bagaimana moral development yang
dibangun di rumah. Gadget adalah bentuk kemajuan yg tidak bisa kita hentikan.
Aliran informasi kencang tapi perekatan memori bermasalah. Oleh karenanya
manfaatkan kemudahan informasi dari media sosial tersebut dengan
mengintegerasikannya ke dalam materi belajar. Agar konten yang mereka bagikan,
berisi materi keilmuan yang mencerdaskan mereka scara tidak langsung. Misalnya
dengan penelitian yang kemudian di upload di youtube
Kaitannya lagi dengan fame -> ketika anak belum matang dalam penggunaan
media sosial, maka mereka terlihat memperdagangkan diri mereka meskipun mereka
tidak bermaksud demikian karena pola pikir mereka belum matang.
2. Apa ada positifnya berlama-lama dengan gadget?
Gadget fungsinya sebagai alat bantu dalam kehidupan, di mana generasi milenial
adalah generasi yang menyukai kemudahan. Arahkan mereka memanfaatkan gawainya
bukan menjadi korban adiksinya.
3. Apa harapan orangtua?
Semua orangtua memiliki keinginan sama yang mulia yakni membesarkan anak dengan
keyakinan mereka akan mencapai cita-citanya.
Lalu apakah keinginan orangtua ini selaras dengan keinginan sang anak?
4. Apa keinginan anak? Faktanya : Self
centered ( berpusat pada diri sendiri) keinginan anak adalah
bukan terpusat pada org lain namun pada dirinya sendiri. Mereka berupaya
mencari yang terbaik buat diri sndiri dan masa depan mereka. Mereka punya courage
nya sndiri ketika mereka sangat menginginkannya.
Gunakan fakta ini, bukan untuk memaksa anak, namun mengarahkan mereka ke
tujuan, dan dukungan yang tepat dengan yg mereka butuhkan.
Kita geser ke dunia sekolah, di mana ini salah satu cara orang tua membuat anak
mencapai mimpi.
Faktanya lagi, sekolah pun mengeluh.
5. Apa keluhan sekolah?
Sekolah melihat trend baru di mana anak terlihat kurang peduli pada belajar dan
tidak betah menyelesaikan tugas. Ditekankan sekali lagi, bukan tidak bisa
belajar namun tidak peduli.
Ini kemudian menimbulkan problematika baru,di mana dalam dunia kerja, ketuntasan kerja menjadi poin utama. Sehingga
menjadi tugas kita bersama, anak harus didukung untuk bisa menyelesaikan
target-target yang diberikan di sekolah.
Anak Millennial harus dikuatkan dalam proses hardwork, dan prinsip make it
happen. Stimulasi mereka dg berbagai kegiatan fisik outdoor, motivasi untuk
menuntaskan target dan memiliki keterampilan untuk mengeksekusi ide mereka
menjadi kenyataan.
6. Millennials di setting belajar
task oriented and want options and choices : ajak anak diskusi dan berikan
pilihan
expect attention : komunikasi dengan anak tidak mesti banyak tapi fokus,
abaikan segala distraksi misalnya ketika mengobrol dengan anak dan tinggalkan
segala gawai dan pekerjaan yang lain yg sedang dikerjakan.
expect feedback : Mereka butuh feedback dan masukan bukan judgement dan omelan.
multitask through multimedia : Jadikan gawai sebagai partner belajar bukan
musuh.
think digital : konsep digital dalam berpikir, cepat dan melibatkan teknologi
work toward weekend or closing time : mereka tidak punya waktu batas belajar,
inspirasi mereka untuk selalu belajar kapanpun di manapun karena dalam dunia
digital informasi tidak pernah tidur.
they are impatient : latih sabarnya melalui kegiatan sederhana
want to be led : Sebagai leader, kita tentu harus lebih tau dari pada mereka,
maka input orangtua juga harus banyak juga agar bisa mengarahkan anak dan
menjadi leader mereka, generasi millennial. *Dirangkum
oleh Maryati Hulalata-ASEO