Pada tanggal 14 oktober 2017 telah dilaksanakan Quality Time for Parents.Seminar kali ini di isi oleh Bu Viera Adella dengan moderator Bu Sari Kusuma Dewi. Di awali dengan prolog mengenai pembicaraan menarik dengan salah seorang orang tua yang merupakan seorang gadget reviewer.
Zaman sekarang jumlah pekerjaan semakin banyak dan variatif, salah satu yg baru dan unik adalah pekerjaan yang khusus untuk mencoba games-games terbaru untuk dirilis. Bahkan menurut beliau lagi, games nantinya akan dimasukkan ke dalam salah satu cabang Olimpiade dunia. Lalu, di tengah kekhawatiran kita terhadap kemasifan pengaruh gadget muncul kekhawatiran yang lain, yakni, apakah hal tersebut benar benar berpengaruh buruk menurut kita, namun bisa jadi belum tentu buat anak-anak millennial ini.
Saya rangkum seminar keren ini dalam bentuk bullets numbering agar lebih memahami runtutan materi yang sangat padat, cepat tapi bermakna dan bermanfaat.
- Bu Della mengawali diskusinya dengan bicara mengenali manusia dalam hal ini anak, dengan metode paling umum yakni metode milestone, yaitu patokan pertumbuhan berdasarkan usia, dimana pada rentang usia berbeda, anak juga memiliki kemampuan yang berbeda pula.
- Ternyata, bagi seorang anak kondisi mental paling nyaman adalah ketika berada di dalam rahim, karena kondisi di dalam rahim hampir tidak ada turbulensi.
- Kondisi ini bisa disebut juga kondisi autism, alias no contact with outside world.
- Anak menangis ketika lahir karena ada turbulensi ketika datang pertama kali ke dunia. Hal ini menunjukam bahwa turbulensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi si anak.
- Itulah mengapa penting sekali mempersiapkan anak untuk siap menghadapi dunia barunya.
- Anak masa kini kebanyakan adalah anak yg unik dan inklusif
- Sehingga kita harus berikan stimulasi sensori yg 'luas' bukan yang 'dalam'
- 'Dalam', maknanya di sini ketika si anak memiliki kelekatan dalam kepada sang ibu, yang lalu membuat mereka dalam fase "PW" atau merasa aman dengan kondisi ternyamannya.
- Yang baik adalah biasakan anak pada hal-hal yang baru dan luas, sehingga sensornya menjadi terbiasa dengan turbulensi dan tidak terkejut dengan adanya gejolak gejolak yang lumrah terjadi dalam hidup.
- Usia pra sekolah kemudian menjadi salah satu stage penting untuk melatih sensory pada anak.
- Pada stage ini, ketika orang tua lengah maka pembiasaan sensory tadi yang kemudian direbut oleh kehadiran gadget yang sangat memanjakan sensory visual mereka.
- Pada masa awal pra sekolah menjadi penting untuk memberikan perintah secara jelas dan melibatkan semua sensori sehingga anak dapat memahami dengan baik.
- Ketika bicara sesuatu, akan sangat baik jika orgtua juga menunjukan caranya kemudian ikut mempraktekkannya bersama anak, daripada sekitar perintah lisan dengan ceracau yang panjang namun tidak jelas.
- Regulasi bagi anak juga sangat penting. Orangtua harus bisa mengendalikan/mengerem perilaku anak. Kita harus tahu kapan menyetop adiksi anak terhadap sesuatu yg membuat mereka terobsesi.
- Kita adalah komisioner dalam organisasi parenting di rumah, kitalah yg mengapproval apa yg d lakukan anak.
- Hati-hati dengan istilah anak kreatif dan imajinatif. Kreatif adalah tentang make it happen sedangkan imajinatif baru sampai tahap membayangkan saja belum dengan action. Anak harus kita siapkan tidak berhenti pada level imajinatif, tapi juga kreatif. Yaitu mewujudkan keinginannya dg kerja keras dan konsistensi.
- Menghadapi anak millenial kita hrs tau buttonnya. Mereka amat kritis, sehingga jika kita sebagai orangtua kurang informasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hidup mereka, maka sulit bagi kita untuk terlibat dan memiliki pengaruh dalam hidup mereka. Pelajari dunianya, agar kita bs tau button mana yang kita tekan ketika mereka melakukan bargaining dengan kita sebagai komisioner.
- poin di atas itu baru openingnya 😀
1 : Siapa mereka
The me me generation, millennial, narcistic (research of UN National Institutes of health), lazy, fame oriented, spend more time tweeting about latests entertainment than political issues
Me me generation -> Anak selalu merasa hidup ini ya tentang dia dan dirinya. Namun anak sebenarnya seperti celengan, apa yg diisi itu yg dikeluarkan. Output sesuai input.
Kaitannya dengan fame, kadang-kadang orangtua yg mengafirmasi hal itu dengan mempromote narsistik melalui share foto-foto anak.
Laziness -> kegiatan fisik sebenarnya bisa distimulasi melalui kegiatan sederhana misalnya bantu membawa belanjaan atau household chores
Fokus poinnya bukan pada gadgetnya, tapi bagaimana moral development yang dibangun di rumah. Gadget adalah bentuk kemajuan yg tidak bisa kita hentikan.
Aliran informasi kencang tapi perekatan memori bermasalah. Oleh karenanya manfaatkan kemudahan informasi dari media sosial tersebut dengan mengintegerasikannya ke dalam materi belajar. Agar konten yang mereka bagikan, berisi materi keilmuan yang mencerdaskan mereka scara tidak langsung. Misalnya dengan penelitian yang kemudian di upload di youtube
Kaitannya lagi dengan fame -> ketika anak belum matang dalam penggunaan media sosial, maka mereka terlihat memperdagangkan diri mereka meskipun mereka tidak bermaksud demikian karena pola pikir mereka belum matang.
2. Apa ada positifnya berlama-lama dengan gadget?
Gadget fungsinya sebagai alat bantu dalam kehidupan, di mana generasi milenial adalah generasi yang menyukai kemudahan. Arahkan mereka memanfaatkan gawainya bukan menjadi korban adiksinya.
3. Apa harapan orangtua?
Semua orangtua memiliki keinginan sama yang mulia yakni membesarkan anak dengan keyakinan mereka akan mencapai cita-citanya.
Lalu apakah keinginan orangtua ini selaras dengan keinginan sang anak?
4. Apa keinginan anak?
Faktanya : Self centered ( berpusat pada diri sendiri) keinginan anak adalah bukan terpusat pada org lain namun pada dirinya sendiri. Mereka berupaya mencari yang terbaik buat diri sndiri dan masa depan mereka. Mereka punya courage nya sndiri ketika mereka sangat menginginkannya.
Gunakan fakta ini, bukan untuk memaksa anak, namun mengarahkan mereka ke tujuan, dan dukungan yang tepat dengan yg mereka butuhkan.
Kita geser ke dunia sekolah, di mana ini salah satu cara orang tua membuat anak mencapai mimpi.
Faktanya lagi, sekolah pun mengeluh.
5. Apa keluhan sekolah?
Sekolah melihat trend baru di mana anak terlihat kurang peduli pada belajar dan tidak betah menyelesaikan tugas. Ditekankan sekali lagi, bukan tidak bisa belajar namun tidak peduli.
Ini kemudian menimbulkan problematika baru, di mana dalam dunia kerja, ketuntasan kerja menjadi poin utama. Sehingga menjadi tugas kita bersama, anak harus didukung untuk bisa menyelesaikan target-target yang diberikan di sekolah.
Anak Millennial harus dikuatkan dalam proses hardwork, dan prinsip make it happen. Stimulasi mereka dg berbagai kegiatan fisik outdoor, motivasi untuk menuntaskan target dan memiliki keterampilan untuk mengeksekusi ide mereka menjadi kenyataan.
6. Millennials di setting belajar
task oriented and want options and choices : ajak anak diskusi dan berikan pilihan
expect attention : komunikasi dengan anak tidak mesti banyak tapi fokus, abaikan segala distraksi misalnya ketika mengobrol dengan anak dan tinggalkan segala gawai dan pekerjaan yang lain yg sedang dikerjakan.
expect feedback : Mereka butuh feedback dan masukan bukan judgement dan omelan.
multitask through multimedia : Jadikan gawai sebagai partner belajar bukan musuh.
think digital : konsep digital dalam berpikir, cepat dan melibatkan teknologi
work toward weekend or closing time : mereka tidak punya waktu batas belajar, inspirasi mereka untuk selalu belajar kapanpun di manapun karena dalam dunia digital informasi tidak pernah tidur.
they are impatient : latih sabarnya melalui kegiatan sederhana
want to be led : Sebagai leader, kita tentu harus lebih tau dari pada mereka, maka input orangtua juga harus banyak juga agar bisa mengarahkan anak dan menjadi leader mereka, generasi millennial. *Dirangkum oleh Maryati Hulalata-ASEO

Tidak ada komentar:
Posting Komentar