Kemarau adalah satu keadaan yang pasti dialami negara dengan iklim dua musim, namun permasalahannya adalah kemarau ini akan lama atau tidak. Pemerintah mengatakan bahwa kemarau panjang ini adalah akibat dari la nina. Apapun itu bagi saya yang tidak mempelajari tentang kealaman secara mendalam, bahwasannya manusia telah tidak bersahabat dengan alam. Sewaktu kecil saya masih merasakan berenang di sungai dengan keadaan sungai yang masih jernih, debitnya masih besar padahal kala itu kemarau panjang juga. Sekarang saya jarang menemukan sungai masih mengalir, yang sekarang nyata ditemukan adalah daerah gersang, hutan gundul,dan daerah pertanian puso.
Kini manusia lebih tidak bersahabat dengan alam, semakin tinggi pendidikan malahan semakin pandai beretorika. Dalam sepanjang perjalanan pulang kampung masih menemukan satu daerah di Cisalak Subang yang penduduknya masih bisa bertani hingga 3 kali masa tanam. Amati hutannya ternyata masih terjaga dengan baik. Walaupun mungkin masih ada keterlibatan penjagaan dari pemasok air mineral ternama. Terkadang masih ada sempalan kecil daerah yang masih terlihat air mengalir yang keluar dari tanah dan cukup untuk segelintir orang. Air itu dari kuburan yang diatasnya masih terjaga pohon-pohon besar (di daerah saya masih ada ketakutan menebang pohon kuburan). Dari situ saja kita tahu bahwa hutan yang lebat dapat menjadi tabungan air ketika kemarau panjang.
Walaupun di lazuardi cinere masih hijau dengan pohon-pohon, namun pohon yang tersedia belum mampu menjadi tabungan air di musim kemarau. Beberapa empang atau mini fishery kering kerontang, dan beberapa area rumput mati saking tidak kuatnya menghadapi kemarau panjang. Bukan berarti area rumput ini tidak disirami, karena hampir setiap hari dilakukan penyiraman. Hanya saja kita pun harus arif penyiraman dengan air tanahpun tidak baik karena ada keperluan yang lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar